Jumat, 08 Juni 2012

Mikiru11: This is My Story: Story01

Mikiru11: This is My Story: Story01: I Know... Because I Love You Aku tahu. Aku memang sudah tahu semua itu dari awal. Hanya saja aku sama sekali tidak menginginkannya. Ak...

Story01


I Know... Because I Love You

Aku tahu. Aku memang sudah tahu semua itu dari awal. Hanya saja aku sama sekali tidak menginginkannya. Aku masih berharap kenyataan itu bisa diubah, meski itu berarti banyak waktu yang kuhabiskan untuk menunggu dan bersabar.
“Maaf, Tara! Sekarang aku sedang sibuk. Kita makan siang lain kali saja yah,”ucap laki-laki itu ditelpon, tapi sama sekali tidak terdengar penyesalan disuaranya. Aku tahu...
“Ya sudah. Jaga kesehatanmu dan jangan lupa makan.”
Aku cuma bisa mendesah dan memandangi ponselku di tangan. Entah ini sudah yang keberapa kalinya ia menolak ajakan makan siangku dengan alasan yang sama, tapi entah sudah keberapa kali itu pula aku mendengar suara-suara wanita yang berseru memanggil namanya yang tak sengaja terdengar sewaktu aku menelponnya. Dari suara bisingnya saja aku tahu ia bukan sedang duduk di meja kantornya sambil menekuni berlembar-lembar kertas. Ya, aku tahu...
Waktu makan siang adalah waktu yang paling berharga. Setidaknya bagiku. Itu adalah saat dimana aku bisa duduk berhadapan dengannya sambil menyantap makan siang dan berceloteh banyak hal. Diantara 24 jam sehari, itu adalah saat-saat dimana aku bisa sedikitnya menghabiskan waktu bersamanya disela-sela pekerjaan kami yang semakin sibuk akhir-akhir ini. Walau sebentar saja, aku ingin bisa bersamanya. Tapi apa yang dilakukannya sekarang? Aku yakin ia pasti sedang makan siang atau apa bersama wanita-wanita itu dan aku tidak perlu tahu atau tepatnya tidak mau tahu siapa wanita-wanita itu karena aku sama sekali tidak peduli.
Terserah saja! Aku tidak akan peduli denganmu lagi. Tidak akan...
Air mataku pun menetes tanpa bisa kucegah. Aku tidak mungkin tidak akan peduli. Aku tahu semua tentangnya. Jam berapa dia tidur, makanan kesukaannya, apa yang dilakukannya saat senggang, kebiasaannya saat sedang bosan, bahkan cara berjalannya pun. Itu semua karena aku selalu memperhatikannya. Itu semua karena aku begitu mencintainya. Aku mencintai Jo In-Ho.
Saat itu hari ulang tahunnya. Aku ingin memberinya kejutan, karena itu pun aku datang ke apartemennya dengan sekotak kue ulang tahun. Aku berjalan dengan langkah ringan dan senang menuju kamar apartemennya. Aku sangat tidak sabar melihat wajah kagetnya. Ia sangat suka kejutan dan aku harap ini bisa menyenangkannya. Dengan perasaan menggebu-gebu seperti itu, aku pun tiba di pintu apartemennya dan memencet bel. Sambil menunggu pintu dibuka, aku memperhatikan dan mengamati kotak kue itu. Sempurna!
Aku mendengar suara kunci yang dibuka dan aku langsung bersiap-siap memasang senyum lebar, tapi apa yang kulihat waktu itu seketika melenyapkan senyumku. Wanita yang masih mengenakan gaun tidur itu memandangku dengan tatapan bertanya. Aku tidak bisa menyingkirkan pikiran-pikiran burukku tentang gadis itu dan apa yang sedang dilakukannya di apartemen In-Ho, sampai suara yang begitu kukenal terdengar.
“Siapa yang datang?”
Dan  yang kulihat adalah sosoknya dengan baju mandi dan handuk kecil untuk mengeringkan rambut yang tersampir di pundaknya. Ia terkejut melihatku. Heh, wajar saja! Siapa yang tidak akan terkejut ketika tiba-tiba kau menemukan pacarmu tengah berdiri di depan apartemenmu ketika kau sedang bersama seorang wanita berpakaian gaun tidur?
Tapi...apa yang kulakukan? Aku justru tersenyum.
“Eh, kau baru selesai mandi yah. Maaf, sepertinya aku datang terlalu pagi. Aku cuma ingin menyerahkan ini,”kataku seraya menyodorkan kotak kue itu padanya. Wanita bergaun tidur itu menerimanya dengan ragu-ragu. “Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai nanti!”
Sampai nanti??? Apa yang kuucapkan? Kenapa bukan ‘selamat tinggal dan kita putus saja’? Kenapa...kenapa aku tidak mengatakan itu saja?
“Tara, tunggu!”
Aku bisa mendengar suaranya yang memanggilku. Tidak, aku tidak ingin berpaling. Aku tidak ingin memperlihatkan wajah yang penuh air mata ini di depannya. Aku pasti akan terlihat jelek sekali dan memalukan. Karena itu, aku pun berpura-pura tidak mendengarnya dan berjalan menuruni tangga apartemen dengan cepat.
********
Aku memperhatikan ponselku yang tergeletak di dekatku. Ponsel itu bergetar terus-menerus, menandakan telpon masuk. Tapi aku tidak ingin menerima telpon apapun dan dari siapa pun saat ini. Aku hanya ingin menikmati kesendirianku. Berbaring telentang di tempat tidur dan memandang kosong ke arah langit-langit kamarku. Aku sendiri tidak tahu apa yang kupikirkan, tapi rasanya memandangi langit-langit kamar dengan pandangan kosong seperti ini menyenangkan. Air mataku juga sudah tidak mengalir lagi, sepertinya aku sudah lelah menangis. Ya, pasti sudah lelah...
*******
Ketika membuka pintu apartemenku esok paginya, aku terpaku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat sosok itu. Wajahnya, posturnya, dan sorot matanya yang aku rindukan. Dan sekarang sosok itu berdiri tepat di pintu apartemenku.
“Tara, maafkan aku! Aku...”
Aku tahu. Aku sudah mendengar permintaan maaf  itu berkali-kali dan sebanyak itulah aku akhirnya terus menangis dan menyesali perbuatanku memaafkannya. Tapi aku tidak bisa tidak memaafkannya. Aku begitu mencintainya. Setidaknya selama ia masih mengucapkan maaf padaku, aku tahu aku masih sedikit berarti baginya.
“Aku tahu. Tidak apa-apa.”
Aku tersenyum. Apa aku bodoh? Memang. Aku tidak peduli pendapat apapun tentang sikapku ini, aku hanya ingin mempertahankannya meski pada akhirnya perjuanganku ini tidak ada artinya.
Semua itu terbayar ketika akhirnya ia tersenyum secerah matahari pagi itu. Senyum yang aku suka...
*******
Beberapa hari setelah itu...
“Hari ini aku akan masak makanan kesukaanmu. Kita akan makan Bulgogi* hari ini,”seruku.
“Sunggguh? Kau tidak capek? Bukannya hari ini si perancang busana berwajah gorilla itu sudah membuatmu bekerja seharian?”
“Tidak, tidak. Tenang saja. Oia, di kulkasmu masih ada apa saja?”
“Hm... sepertinya ada beberapa daging, kimchi, dan beberapa sayur dan buah yang kau masukkan ke kulkasku minggu lalu,”ucapnya sambil setengah tersenyum.
“Kau sudah tidak makan makanan kaleng itu lagi kan?”tanyaku dengan nada menyelidik.
Ia tertawa. “ Tentu saja. Aku tidak mau dimarahi oleh ibuku yang cerewet ini,”godanya.
“Huh, siapa yang kau maksud ibu?”
Mendengar ocehanku, ia hanya tertawa. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya saat itu. Aku selalu suka melihatnya tersenyum dan tertawa seperti ini. Senyum dan tawanya itu adalah hal paling indah dan paling kusukai. Aku yakin aku bisa melakukan apapun untuknya asal ia tetap tersenyum dan tertawa seperti itu.
Tapi kemudian langkahnya terhenti. Ekspresi wajahnya mendadak berubah tegang. Aku pun mengalihkan pandanganku dan kudapati seorang wanita berdiri tak jauh di depan kami, tepatnya di pintu apartemen In-Ho. Wajah gadis itu juga menegang ketika ia mendapati kehadiran kami. Aku tahu! Aku ingat wanta itu. Wanita berpakaian tidur yang kutemui di hari ulang tahun In-Ho. Mendadak persaanku menjadi tidak enak. Aku langsung mengarahkan pandanganku ke In-Ho dan ia masih menatap luruh ke arah wanita itu. Tidak! Apa yang akan terjadi? Aku tidak ingin memikirkannya. Tidak ingin...
“In-Ho, bertanggung jawablah!”
Tidak... kumohon jangan katakan! Aku mohon...
“Aku hamil.”
Seakan mimpi burukmu menjadi nyata. Seakan Bumi melenyapkanmu saat itu juga. Saat sepertinya semua kebahagiaan yang kau punya direnggut sekaligus.
“In-Ho,”panggil wanita itu dengan suara lirih. “Aku membutuhkanmu. Aku dan anak ini.” Ia menyentuh perutnya. Rahim yang berisi darah daging In-Ho.
In-Ho masih tidak bicara  apa-apa. Aku cuma bisa menunduk, menahan air mata yang siap tumpah saat ini, menahan semua gejolak emosi yang menghantam-hantam dadaku. Padahal...padahal baru saja aku menikmati kebahagiaanku bersamanya. Aku harus bagaimana? Bagaimana?
“In-Ho...”panggil wanita itu lagi.
Aku...sudah tidak tahan! Aku tahu! Berulang kali kukatakan aku sudah tahu! Aku akan terus lebih banyak menangis, lebih banyak menderita, dan lebih banyak tersakiti. Aku tahu hubungan ini tidak akan berjalan mudah, tapi aku...aku hanya ingin mempertahankannya. Aku mencintainya dan akan selalu mencintainya.
“Ah, In-Ho! Aku lupa,”ucapku tiba-tiba. “Sore ini aku haruus mengantarkan rancangan Mister Kim ke suatu tempat. Makan malamnya kubuatkan nanti saja yah. Aku buru-buru. Sampai nan-”
Ucapanku terhenti ketika tiba-tiba tanganku dicekal.
“Kau...mau pergi kemana?”suara In-Ho terdengar lirih. Aku tidak bisa menebak apa yang ada dibalik sorot matanya saat itu. Aku hanya tahu...
Aku tersenyum. “Tenang saja. Aku akan kembali.”
Cekalan tangan In-Ho melonggar dan aku segera melepaskan diri. Kulemparkan senyum terbaikku sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan tempat itu. Meninggalkan orang yang paling kusayangi bersama wanita yang menjadi tanggung jawabnya. Dan aku tidak bisa apa-apa selain berjalan sambil menagis. Menangis meratapi kebodohanku selama ini, perasaanku padanya, dan takdir yang menghancurkan kebahagiaanku.
Menangis, menangis, dan menangis...
Saat kukatakan aku akan kembali, aku tidak tahu apa yang ada dipikiran In-Ho, tapi malam harinya, juga malam-malam berikutnya ia akan tahu aku tidak pernah kembali.
********
Epilog
Lima tahun sudah aku menjalani profesi baruku sebagai guru Taman Kanak-Kanak di kota kecil ini. Ya, kutinggalkan pekerjaan lamaku dan meninggalkan tempat itu. Di sini, aku memulai semuanya kembali. Ditemani tawa anak-anak kecil di sekelilingku. Meski kadang ada beberapa dari mereka yang berlari ke arahku sambil menangis karena diganggu teman-temannya.
Hari itu, aku melihat anak kecil itu datang ke-TK. Aku baru melihatnya. Sepertinya dia anak baru yang diceritakan Sun Mi, temanku yang juga bekerja di TK ini. Aku memperhatikannya sedang melepas dan mengganti sepatu. Setelah selesai menggantinya, ia meletakkan sepatunya kembali ke rak sepatu dengan rapi. Pintar sekali, pujiku. Aku pun mendekatinya dan berusaha menyapanya seramah mungkin.
“Selamat pagi!”
“Eh, selamat pagi, Ibu Guru!”
Aku tersenyum. Suaranya menggemaskan sekali. Aku pun berjongkok dan menyamakan tinggiku dengannya.
“Pintar sekali! Boleh Ibu tahu namamu?”
Ia mengangguk. “Namaku Jo In-Hae!”serunya.
Jo In-Hae... Namanya mirip seperti....
“Ah, In-Hae! Kau meninggalkan bekalmu di mobil.”
Pikiranku pun terpotong oleh suara itu. Suara itu... Aku tidak pernah melupakan suara itu. Mungkinkah....
“Appa!!”
Dan untuk pertama kalinya, di depan pintu masuk itu... disinari cahaya pagi di belakangnya... berdiri sosok itu. Sosok yang begitu kurindukan selama ini, yang selalu hadir di mimpiku, yang selalu membuatku sulit bernapas setiap mengingatnya, senyum yang paling indah dan paling kusukai, dan tatapan itu...
“Tara... ”
Dialah  Jo in-Ho, milikku.
The End

Cerita pertama yang kupublish di blog pertamaku juga. Nantinya aku berharap menjadikan blog ini sebagai tempat publish cerita-ceritaku. Semoga saja kesampaian...
Semoga kalian menyukai cerita ini.
Arigatou gozaimasu....