I
Know... Because I Love You
Aku tahu. Aku memang sudah tahu semua
itu dari awal. Hanya saja aku sama sekali tidak menginginkannya. Aku masih
berharap kenyataan itu bisa diubah, meski itu berarti banyak waktu yang
kuhabiskan untuk menunggu dan bersabar.
“Maaf, Tara! Sekarang aku sedang
sibuk. Kita makan siang lain kali saja yah,”ucap laki-laki itu ditelpon, tapi
sama sekali tidak terdengar penyesalan disuaranya. Aku tahu...
“Ya sudah. Jaga kesehatanmu dan
jangan lupa makan.”
Aku cuma bisa mendesah dan memandangi
ponselku di tangan. Entah ini sudah yang keberapa kalinya ia menolak ajakan
makan siangku dengan alasan yang sama, tapi entah sudah keberapa kali itu pula
aku mendengar suara-suara wanita yang berseru memanggil namanya yang tak
sengaja terdengar sewaktu aku menelponnya. Dari suara bisingnya saja aku tahu
ia bukan sedang duduk di meja kantornya sambil menekuni berlembar-lembar
kertas. Ya, aku tahu...
Waktu makan siang adalah waktu yang
paling berharga. Setidaknya bagiku. Itu adalah saat dimana aku bisa duduk
berhadapan dengannya sambil menyantap makan siang dan berceloteh banyak hal.
Diantara 24 jam sehari, itu adalah saat-saat dimana aku bisa sedikitnya
menghabiskan waktu bersamanya disela-sela pekerjaan kami yang semakin sibuk
akhir-akhir ini. Walau sebentar saja, aku ingin bisa bersamanya. Tapi apa yang
dilakukannya sekarang? Aku yakin ia pasti sedang makan siang atau apa bersama
wanita-wanita itu dan aku tidak perlu tahu atau tepatnya tidak mau tahu siapa
wanita-wanita itu karena aku sama sekali tidak peduli.
Terserah
saja! Aku tidak akan peduli denganmu lagi. Tidak akan...
Air mataku pun menetes tanpa bisa
kucegah. Aku tidak mungkin tidak akan peduli. Aku tahu semua tentangnya. Jam
berapa dia tidur, makanan kesukaannya, apa yang dilakukannya saat senggang,
kebiasaannya saat sedang bosan, bahkan cara berjalannya pun. Itu semua karena
aku selalu memperhatikannya. Itu semua karena aku begitu mencintainya. Aku
mencintai Jo In-Ho.
Saat itu hari ulang tahunnya. Aku
ingin memberinya kejutan, karena itu pun aku datang ke apartemennya dengan
sekotak kue ulang tahun. Aku berjalan dengan langkah ringan dan senang menuju
kamar apartemennya. Aku sangat tidak sabar melihat wajah kagetnya. Ia sangat
suka kejutan dan aku harap ini bisa menyenangkannya. Dengan perasaan
menggebu-gebu seperti itu, aku pun tiba di pintu apartemennya dan memencet bel.
Sambil menunggu pintu dibuka, aku memperhatikan dan mengamati kotak kue itu.
Sempurna!
Aku mendengar suara kunci yang dibuka
dan aku langsung bersiap-siap memasang senyum lebar, tapi apa yang kulihat
waktu itu seketika melenyapkan senyumku. Wanita yang masih mengenakan gaun
tidur itu memandangku dengan tatapan bertanya. Aku tidak bisa menyingkirkan
pikiran-pikiran burukku tentang gadis itu dan apa yang sedang dilakukannya di
apartemen In-Ho, sampai suara yang begitu kukenal terdengar.
“Siapa yang datang?”
Dan
yang kulihat adalah sosoknya dengan baju mandi dan handuk kecil untuk
mengeringkan rambut yang tersampir di pundaknya. Ia terkejut melihatku. Heh,
wajar saja! Siapa yang tidak akan terkejut ketika tiba-tiba kau menemukan
pacarmu tengah berdiri di depan apartemenmu ketika kau sedang bersama seorang
wanita berpakaian gaun tidur?
Tapi...apa yang kulakukan? Aku justru
tersenyum.
“Eh, kau baru selesai mandi yah.
Maaf, sepertinya aku datang terlalu pagi. Aku cuma ingin menyerahkan
ini,”kataku seraya menyodorkan kotak kue itu padanya. Wanita bergaun tidur itu
menerimanya dengan ragu-ragu. “Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai nanti!”
Sampai nanti??? Apa yang kuucapkan?
Kenapa bukan ‘selamat tinggal dan kita putus saja’? Kenapa...kenapa aku tidak
mengatakan itu saja?
“Tara, tunggu!”
Aku bisa mendengar suaranya yang
memanggilku. Tidak, aku tidak ingin berpaling. Aku tidak ingin memperlihatkan
wajah yang penuh air mata ini di depannya. Aku pasti akan terlihat jelek sekali
dan memalukan. Karena itu, aku pun berpura-pura tidak mendengarnya dan berjalan
menuruni tangga apartemen dengan cepat.
********
Aku memperhatikan ponselku yang
tergeletak di dekatku. Ponsel itu bergetar terus-menerus, menandakan telpon
masuk. Tapi aku tidak ingin menerima telpon apapun dan dari siapa pun saat ini.
Aku hanya ingin menikmati kesendirianku. Berbaring telentang di tempat tidur dan
memandang kosong ke arah langit-langit kamarku. Aku sendiri tidak tahu apa yang
kupikirkan, tapi rasanya memandangi langit-langit kamar dengan pandangan kosong
seperti ini menyenangkan. Air mataku juga sudah tidak mengalir lagi, sepertinya
aku sudah lelah menangis. Ya, pasti sudah
lelah...
*******
Ketika membuka pintu apartemenku esok
paginya, aku terpaku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat sosok itu.
Wajahnya, posturnya, dan sorot matanya yang aku rindukan. Dan sekarang sosok
itu berdiri tepat di pintu apartemenku.
“Tara, maafkan aku! Aku...”
Aku
tahu. Aku
sudah mendengar permintaan maaf itu
berkali-kali dan sebanyak itulah aku akhirnya terus menangis dan menyesali
perbuatanku memaafkannya. Tapi aku tidak bisa tidak memaafkannya. Aku begitu
mencintainya. Setidaknya selama ia masih mengucapkan maaf padaku, aku tahu aku
masih sedikit berarti baginya.
“Aku tahu. Tidak apa-apa.”
Aku tersenyum. Apa aku bodoh? Memang.
Aku tidak peduli pendapat apapun tentang sikapku ini, aku hanya ingin
mempertahankannya meski pada akhirnya perjuanganku ini tidak ada artinya.
Semua itu terbayar ketika akhirnya ia
tersenyum secerah matahari pagi itu. Senyum
yang aku suka...
*******
Beberapa hari setelah itu...
“Hari ini aku akan masak makanan
kesukaanmu. Kita akan makan Bulgogi* hari ini,”seruku.
“Sunggguh? Kau tidak capek? Bukannya
hari ini si perancang busana berwajah gorilla itu sudah membuatmu bekerja
seharian?”
“Tidak, tidak. Tenang saja. Oia, di kulkasmu
masih ada apa saja?”
“Hm... sepertinya ada beberapa
daging, kimchi, dan beberapa sayur dan buah yang kau masukkan ke kulkasku
minggu lalu,”ucapnya sambil setengah tersenyum.
“Kau sudah tidak makan makanan kaleng
itu lagi kan?”tanyaku dengan nada menyelidik.
Ia tertawa. “ Tentu saja. Aku tidak
mau dimarahi oleh ibuku yang cerewet ini,”godanya.
“Huh, siapa yang kau maksud ibu?”
Mendengar ocehanku, ia hanya tertawa.
Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya saat itu. Aku selalu suka
melihatnya tersenyum dan tertawa seperti ini. Senyum dan tawanya itu adalah hal
paling indah dan paling kusukai. Aku yakin aku bisa melakukan apapun untuknya
asal ia tetap tersenyum dan tertawa seperti itu.
Tapi kemudian langkahnya terhenti.
Ekspresi wajahnya mendadak berubah tegang. Aku pun mengalihkan pandanganku dan
kudapati seorang wanita berdiri tak jauh di depan kami, tepatnya di pintu
apartemen In-Ho. Wajah gadis itu juga menegang ketika ia mendapati kehadiran
kami. Aku tahu! Aku ingat wanta itu. Wanita berpakaian tidur yang kutemui di
hari ulang tahun In-Ho. Mendadak persaanku menjadi tidak enak. Aku langsung
mengarahkan pandanganku ke In-Ho dan ia masih menatap luruh ke arah wanita itu.
Tidak! Apa yang akan terjadi? Aku tidak ingin memikirkannya. Tidak ingin...
“In-Ho, bertanggung jawablah!”
Tidak...
kumohon jangan katakan! Aku mohon...
“Aku hamil.”
Seakan mimpi burukmu menjadi nyata.
Seakan Bumi melenyapkanmu saat itu juga. Saat sepertinya semua kebahagiaan yang
kau punya direnggut sekaligus.
“In-Ho,”panggil wanita itu dengan
suara lirih. “Aku membutuhkanmu. Aku dan anak ini.” Ia menyentuh perutnya.
Rahim yang berisi darah daging In-Ho.
In-Ho masih tidak bicara apa-apa. Aku cuma bisa menunduk, menahan air
mata yang siap tumpah saat ini, menahan semua gejolak emosi yang
menghantam-hantam dadaku. Padahal...padahal baru saja aku menikmati
kebahagiaanku bersamanya. Aku harus bagaimana? Bagaimana?
“In-Ho...”panggil wanita itu lagi.
Aku...sudah tidak tahan! Aku tahu!
Berulang kali kukatakan aku sudah tahu! Aku akan terus lebih banyak menangis,
lebih banyak menderita, dan lebih banyak tersakiti. Aku tahu hubungan ini tidak
akan berjalan mudah, tapi aku...aku hanya ingin mempertahankannya. Aku
mencintainya dan akan selalu mencintainya.
“Ah, In-Ho! Aku lupa,”ucapku
tiba-tiba. “Sore ini aku haruus mengantarkan rancangan Mister Kim ke suatu tempat.
Makan malamnya kubuatkan nanti saja yah. Aku buru-buru. Sampai nan-”
Ucapanku terhenti ketika tiba-tiba
tanganku dicekal.
“Kau...mau pergi kemana?”suara In-Ho
terdengar lirih. Aku tidak bisa menebak apa yang ada dibalik sorot matanya saat
itu. Aku hanya tahu...
Aku tersenyum. “Tenang saja. Aku akan
kembali.”
Cekalan tangan In-Ho melonggar dan
aku segera melepaskan diri. Kulemparkan senyum terbaikku sebelum akhirnya
berbalik dan meninggalkan tempat itu. Meninggalkan orang yang paling kusayangi
bersama wanita yang menjadi tanggung jawabnya. Dan aku tidak bisa apa-apa
selain berjalan sambil menagis. Menangis meratapi kebodohanku selama ini, perasaanku
padanya, dan takdir yang menghancurkan kebahagiaanku.
Menangis,
menangis, dan menangis...
Saat kukatakan aku akan kembali, aku
tidak tahu apa yang ada dipikiran In-Ho, tapi malam harinya, juga malam-malam
berikutnya ia akan tahu aku tidak pernah kembali.
********
Epilog
Lima tahun sudah aku menjalani profesi
baruku sebagai guru Taman Kanak-Kanak di kota kecil ini. Ya, kutinggalkan
pekerjaan lamaku dan meninggalkan tempat itu. Di sini, aku memulai semuanya
kembali. Ditemani tawa anak-anak kecil di sekelilingku. Meski kadang ada
beberapa dari mereka yang berlari ke arahku sambil menangis karena diganggu teman-temannya.
Hari itu, aku melihat anak kecil itu
datang ke-TK. Aku baru melihatnya. Sepertinya dia anak baru yang diceritakan
Sun Mi, temanku yang juga bekerja di TK ini. Aku memperhatikannya sedang
melepas dan mengganti sepatu. Setelah selesai menggantinya, ia meletakkan
sepatunya kembali ke rak sepatu dengan rapi. Pintar sekali, pujiku. Aku pun
mendekatinya dan berusaha menyapanya seramah mungkin.
“Selamat pagi!”
“Eh, selamat pagi, Ibu Guru!”
Aku tersenyum. Suaranya menggemaskan
sekali. Aku pun berjongkok dan menyamakan tinggiku dengannya.
“Pintar sekali! Boleh Ibu tahu
namamu?”
Ia mengangguk. “Namaku Jo
In-Hae!”serunya.
Jo
In-Hae... Namanya mirip seperti....
“Ah, In-Hae! Kau meninggalkan bekalmu
di mobil.”
Pikiranku pun terpotong oleh suara
itu. Suara itu... Aku tidak pernah melupakan suara itu. Mungkinkah....
“Appa!!”
Dan untuk pertama kalinya, di depan
pintu masuk itu... disinari cahaya pagi di belakangnya... berdiri sosok itu.
Sosok yang begitu kurindukan selama ini, yang selalu hadir di mimpiku, yang
selalu membuatku sulit bernapas setiap mengingatnya, senyum yang paling indah
dan paling kusukai, dan tatapan itu...
“Tara... ”
Dialah Jo in-Ho, milikku.
The
End
Cerita pertama yang kupublish di blog
pertamaku juga. Nantinya aku berharap menjadikan blog ini sebagai tempat
publish cerita-ceritaku. Semoga saja kesampaian...
Semoga kalian menyukai cerita ini.
Arigatou
gozaimasu....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar